Kalau dipikir-pikir, hidup ini memang tidak sederhana. Benturan-benturan yang terlalu sering terjadi, menjadikan alur yang semestinya lurus jadi kusut. Jalan yang lengang menjadi terlalu ramai dan gaduh. Bersinggungan dengan masalah, kadang tidak menjadi sebuah pengalaman yang positif, malah sebaliknya, ia menjadi seperti kerikil yang menghalangi jalan.
Sering aku pandangi wajahnya tatkala ia sedang pulas tertidur, tangannya yang santun memeluk erat si kecil, buah hati kami. Hatiku mendadak terenyuh, menyaksikan kedamaian yang tersembunyi di balik kepulasan itu. Celakalah, bagi mereka yang mendapatkan kedamaian hanya pada saat ia sedang terlelap, pikirku.
Sudah tiga tahun kami merajut impian secara bersama. Mencoba belajar menjadi orang tua, menjadi pasangan hidup dan berjuang menunaikan ikrar yang pernah kami ucapkan. Ada banyak hal yang menjadikan mimpi-mimpi itu tidak menjadi kenyataan, ada banyak kemungkinan yang menjadikan andai-andai itu lebur di tengah jalan. Itulah mengapa aku berani menyebut sebuah kesimpulan, bahwa hidup ini memang tidak sederhana.
Sebuah niat baik, rasanya tidak akan tercapa jika hanya berhenti pada niat itu saja. Ia harus diterjemahkan dengan cucuran keringat, dengan dukungan tekad yang tidak sedikit.
Menjalani hidup secara bersama, seperti mendayung sampan kayu di atas telaga. Harus ada harmoni antara dayung kiri dan dayung kanan. Penghuni sampan kayu itu idak hanya harus pintar mendayung, tapi ia juga harus bersiap mempertahankan keseimbangan ketika ombak datang, kecil atau pun besar.
“Kita baru saja melewati tahun ketiga kebersamaan ini, istriku…” kataku padanya suatu pagi. Dan lihatlah, apa yang telah kita lakukan, jalan yang terasa panjang itu ternyata masih terlalu pendek, bahkan untuk sebuah cerita pada anak-anak kita. Kisah itu sama sekali belum terajut, ia hanya menjadi pengalan-pengalan mozaik. Tapi itulah kita, itulah kebersamaan kita. Cemburulah kita pada mereka yang telah menjadi orang tua puluhan tahun lamanya.
Dengan apa yang telah kami lalui, semoga sampan kayu ini semakin seimbang melaju membelah waktu, menahan helaan badai yang tidak pernah kita perkirakan. Semoga lindungan-NYA menaungi kegembiraan yang hendak dibina.