Pendas Astacala, Antara Konsep Pendidikan Salah Kaprah dan Doktrin Militeristik Yang Setengah-setengah

Pendidikan dasar Astacala yang memasuki periode ke-20 telah berlalu. Dan masih hangat dalam ingatan kita, seperti apa hiruk pikuk di dalam dan di balik semua itu. Seperti juga masih terlihat di forum-forum yang melibatkan anggota Astacala. Namun sebuah tanda tanya besar, masih terpampang gamang dalam benak masing-masing kita, sukseskah, biasa-biasa saja atau malah sebaliknya?

Barangkali masih terlalu dini untuk mengorek jawaban dari pertanyaan seperti itu, dan mungkin dianggap kurang sopan, dengan memperhatikan kondisi panitia terkini. Maka supaya tidak dianggap cerewet dan melampaui batas etika, saya ingin berbagi pikiran saja dalam tulisan ini, tulisan yang saya sarikan dari pengalaman dan sumber yang minim, semoga tidak menjadi pembenaran subjektif.

Konsep awal dari pendidikan dasar ada pada kata pendidikan itu, yang secara harfiah kita artikan semacam transfer pengetahuan juga pengalaman kepada peserta didik yang disebut siswa. Secara tidak langsung, ada beberapa pakem yang disepakati dalam pendidikan dasar astacala yakni bahwa ‘alam adalah guru yang terbaik’, ‘alamlah yang mendidik, kami hanya mengantarkan’, ‘tidak ada kontak fisik’, ‘safety prosedur’.

Pakem itu kemudian diterjemahkan dalam berbagai bentuk materi acara, ada Long March, Gunung Hutan dan Survival (3 materi Pendas yang setahu saya selalu ada, kecuali mungkin API).

Yang paling menarik dari beberapa pemahaman yang dimiliki tentang Pendas itu menurut saya adalah tidak ada kontak fisik. Ini merupakan keunggulan lain dari Astacala jika dibandingkan dengan kebanyakan Mapala di kampus lain. Pemahaman tentang itu sedemikian kuat ditanamkan hingga sampai Pendas terakhir pun semua panitia tahu tentang itu. Adalah tabu, jika kita melakukan kontak fisik dalam pendidikan dasar.

Konsep ini bukan tanpa alasan, salah satu alasan yang kuat adalah bahwa tanpa kontak fisik pun, sebetulnya siswa-nya sudah sangat lemah. Boleh jadi memang, oleh karena alasan itu maka ‘belum’ ada tragedi krusial pada Pendas akibat bentrok fisik. Tapi benarkah? Saya pikir, bukan karena itu alasan yang mungkin lebih tepat.

Kontak fisik lebih bersifat pemaksaan, arogansi kekuasaan sebagai panitia. Pendidikan yang dipaksakan akan menjadi dogma yang menyesatkan.

Konsep Pendidikan yang Salah Kaprah

Benar bahwa pakem yang dianut oleh Pendas Astacala itu baik. Namun ada sebuah inti dari pendidikan yang kadang terlupakan yakni konsep pembebasan. Konsep seperti ini memahami bahwa, ilmu yang diberikan akan lebih terserap jika diberikan secara terbuka, memberikan kemungkinan kepada peserta didik untuk berkreasi dan tidak hanya menerima saja.

Dan sayangnya, konsep pendidikan yang membebaskan ini tidak dimiliki sepenuhnya oleh Pendas. Siswa dikondisikan untuk menjadi lemah, siswa dipaksa berada pada posisi yang kalah. Sehingga kebebasan berpikir yang menjadi syarat untuk kreatifitas menjadi mandeg. Indikasi ini mungkin secara tak sadar kita terjemahkan dalam pola pendas astacala, long march dengan beban maksimal dan kadang diperparah dengan penghukuman yang berlebihan. Kondisi serupa yang paling gampang terlihat adalah pada saat survival.

Apakah dalam konsep pendidikan yang membebaskan itu memang tidak mengenal hukuman dan disiplin? Tentu tidak, namun yang harus menjadi titik berat adalah apakah hukuman dan disiplin itu akan berdampak positif atau tidak? Hukuman yang diberikan harus terukur dan disiplin yang dimaksud harus masuk akal.
Hukuman yang terukur adalah hukuman yang juga mempertimbangkan dampak dari hukuman itu, ia juga mempertimbangkan kondisi aktual peserta didik. Toh nyatanya, dalam konsep pendidikan modern, banyak sekali contoh hukuman yang tidak berupa fisik. Disiplin yang masuk akal adalah disiplin yang diterapkan secara adil dan tidak emosional. Dan tentunya, untuk menumbuhkan disiplin itu bukan dari besar kecilnya ganjaran di balik itu, sebab kunci dari disiplin adalah konsistensi.

Mari kita bandingkan dengan Pendas. Sudahkah kebebasan itu dirasakan siswa, sudahkan mereka nyaman sehingga dapat menyerap ilmu secara lebih maksimal?

Ada semacam ‘ketakutan’ yang selama ini mengitari panitia, siswa sama sekali tidak boleh mengetahui ROP contohnya, siswa sama sekali tidak tahu berapa hari masa pendidikan dasar ini? Mengapa ini dilakukan? Dan apakah itu perlu? Jika berpatokan pada pendidikan yang memebaskan itu, tentu tak ada alasan menutupi ROP.

Berpatokan pada kasus survival, seperti tergambar dalam pernyataan Bedjat di forum diskusi, kalau dihubungkan dengan konsep pendidikan yang membebaskan itu, maka menurut saya, sangat wajar kalau siswa tidak menyerap secara penuh materi yang diberikan. Dalam kondisi fisik yang sedemikian lemah, ditambah kondisi alam yang tidak biasa, dan tuntutan panitia, apakah ini kondisi ideal bagi mereka untuk menyerap pengetahuan tentang survival?

Makanya jangan heran, sangat sedikit siswa yang berhasil membuat api dalam kondisi seperti tergambar pada masa surivival. Tidak bisa membuat api, sebab mental mereka sudah terlalu lemah. Jika pun ada, kadang hanya bersifat keberuntungan. Padahal, kunci utama keberhasilan dari survival adalah mental siswa itu sendiri. Mereka harus memiliki keyakinan untuk bertahan walau dalam kondisi seminim apa pun.

Saya percaya, dengan memberikan kebebasan yang pantas kepada siswa, tentu penyerapan ilmu itu akan lebih maksimal. Saya percaya dengan keterbukaan, baik itu keterbukaan dari paniti maupun keterbukaan dan kejelasan informasi siswa akan lebih siap menyerap ilmu itu.

Doktrin Militeristik Yang Setengah-setengah

Pendidikan dasar astacala, sedikit banyak mengadopsi pendidikan dasar Wanadri. Hal ini wajar, sebab angkatan Perintis berada dalam didikan Wanadri. Menurut saya, dalam pendas Wanadri, sedikit mengarah pada pendidikan militer/semi militer. Hal ini ditandai dengan keterlibatan pejabat-pejabat militer di lingkungan Wanadri.

Satu hal yang menjadi kunci dalam pendidikan ala militer adalah doktrin, yakni adanya pemaksaan untuk menjejalkan sesuatu pada kepada seseorang dengan cara-cara tertentu. Dan adanya bentrok fisik, tentunya.

Hal ini tentu ditentang oleh Pendas Astacala yakni dengan meniadakan bentrok fisik dalam bentuk apa pun kepada siswa. Tapi benarkah pola pendidikan militeristik sudah tak ada?

Beberapa angkatan terdahulu sedikit heran, melihat Pendas kemarin “Kok sekarang modelnya bentak-bentak ya”

Saya tidak paham, apakah model bentak-bentak yang dimaksud ini sudah menjadi kebiasaan atau hanya berlaku pada pendas kemarin saja. Yang saya lihat, dengan pola bentak-bentak itu ada semacam pemaksaan ketegasan, tujuannya mungkin memberikan efek takut kepada siswa. Saya khawatir dengan kecenderungan seperti ini, lama-lama Pendas Astacala akan mengarah pada pendas yang bersifat semi militer. Awalnya mungkin bentak-bentak, tapi mungkin selanjutnya lebih dari itu.


Sudah semestinya kita harus membongkar ulang pemahaman kita tentang pendidikan dasar astacala, berpikir ulang tentang apa itu Astacala. Seperti bermain lego, ia menjadi asyik bukan karena berhasil membuat satu bentuk saja, tapi lebih utama ketika kita berhasil membongkar ulang dan menatanya kembali menjadi bentuk lain yang labih unik dan menarik. Barangkali itulah pendas yang hendak saya maksud.

– diskusi tentang topik ini dapat ditelusuri di forum diskusi http://astacala.org

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s