<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>JIMI PITER WEBLOG&#039;S</title>
	<atom:link href="http://jimipiter.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jimipiter.wordpress.com</link>
	<description>sekedar merangkum catatan-catatan tercecer dan pernah terpikir...</description>
	<lastBuildDate>Thu, 19 Jan 2012 03:46:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='jimipiter.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>JIMI PITER WEBLOG&#039;S</title>
		<link>http://jimipiter.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://jimipiter.wordpress.com/osd.xml" title="JIMI PITER WEBLOG&#039;S" />
	<atom:link rel='hub' href='http://jimipiter.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pendas Astacala, Antara Konsep Pendidikan Salah Kaprah dan Doktrin Militeristik Yang Setengah-setengah</title>
		<link>http://jimipiter.wordpress.com/2012/01/19/pendidikan-dasar-astacala-antara-konsep-pendidikan-salah-kaprah-dan-doktrin-militeristik-yang-setengah-setengah/</link>
		<comments>http://jimipiter.wordpress.com/2012/01/19/pendidikan-dasar-astacala-antara-konsep-pendidikan-salah-kaprah-dan-doktrin-militeristik-yang-setengah-setengah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 03:13:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jimi Piter</dc:creator>
				<category><![CDATA[Astacala]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jimipiter.wordpress.com/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[Pendidikan dasar Astacala yang memasuki periode ke-20 telah berlalu. Dan masih hangat dalam ingatan kita, seperti apa hiruk pikuk di dalam dan di balik semua itu. Seperti juga masih terlihat di forum-forum yang melibatkan anggota Astacala. Namun sebuah tanda tanya besar, masih terpampang gamang dalam benak masing-masing kita, sukseskah, biasa-biasa saja atau malah sebaliknya? Barangkali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jimipiter.wordpress.com&amp;blog=1872283&amp;post=104&amp;subd=jimipiter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pendidikan dasar Astacala yang memasuki periode ke-20 telah berlalu. Dan masih hangat dalam ingatan kita, seperti apa hiruk pikuk di dalam dan di balik semua itu. Seperti juga masih terlihat di forum-forum yang melibatkan anggota Astacala. Namun sebuah tanda tanya besar, masih terpampang gamang dalam benak masing-masing kita, sukseskah, biasa-biasa saja atau malah sebaliknya?</p>
<p>Barangkali masih terlalu dini untuk mengorek jawaban dari pertanyaan seperti itu, dan mungkin dianggap kurang sopan, dengan memperhatikan kondisi panitia terkini. Maka supaya tidak dianggap cerewet dan melampaui batas etika, saya ingin berbagi pikiran saja dalam tulisan ini, tulisan yang saya sarikan dari pengalaman dan sumber yang minim, semoga tidak menjadi pembenaran subjektif.</p>
<p>Konsep awal dari pendidikan dasar ada pada kata pendidikan itu, yang secara harfiah kita artikan semacam transfer pengetahuan juga pengalaman kepada peserta didik yang disebut siswa. Secara tidak langsung, ada beberapa pakem yang disepakati dalam pendidikan dasar astacala yakni bahwa &#8216;alam adalah guru yang terbaik&#8217;, &#8216;alamlah yang mendidik, kami hanya mengantarkan&#8217;, &#8216;tidak ada kontak fisik&#8217;, &#8216;safety prosedur&#8217;.</p>
<p>Pakem itu kemudian diterjemahkan dalam berbagai bentuk materi acara, ada Long March, Gunung Hutan dan Survival (3 materi Pendas yang setahu saya selalu ada, kecuali mungkin API).</p>
<p>Yang paling menarik dari beberapa pemahaman yang dimiliki tentang Pendas itu menurut saya adalah tidak ada kontak fisik. Ini merupakan keunggulan lain dari Astacala jika dibandingkan dengan kebanyakan Mapala di kampus lain. Pemahaman tentang itu sedemikian kuat ditanamkan hingga sampai Pendas terakhir pun semua panitia tahu tentang itu. Adalah tabu, jika kita melakukan kontak fisik dalam pendidikan dasar.</p>
<p>Konsep ini bukan tanpa alasan, salah satu alasan yang kuat adalah bahwa tanpa kontak fisik pun, sebetulnya siswa-nya sudah sangat lemah. Boleh jadi memang, oleh karena alasan itu maka &#8216;belum&#8217; ada tragedi krusial pada Pendas akibat bentrok fisik. Tapi benarkah? Saya pikir, bukan karena itu alasan yang mungkin lebih tepat.</p>
<p>Kontak fisik lebih bersifat pemaksaan, arogansi kekuasaan sebagai panitia. Pendidikan yang dipaksakan akan menjadi dogma yang menyesatkan.</p>
<p>Konsep Pendidikan yang Salah Kaprah</p>
<p>Benar bahwa pakem yang dianut oleh Pendas Astacala itu baik. Namun ada sebuah inti dari pendidikan yang kadang terlupakan yakni konsep pembebasan. Konsep seperti ini memahami bahwa, ilmu yang diberikan akan lebih terserap jika diberikan secara terbuka, memberikan kemungkinan kepada peserta didik untuk berkreasi dan tidak hanya menerima saja.</p>
<p>Dan sayangnya, konsep pendidikan yang membebaskan ini tidak dimiliki sepenuhnya oleh Pendas. Siswa dikondisikan untuk menjadi lemah, siswa dipaksa berada pada posisi yang kalah. Sehingga kebebasan berpikir yang menjadi syarat untuk kreatifitas menjadi mandeg. Indikasi ini mungkin secara tak sadar kita terjemahkan dalam pola pendas astacala, long march dengan beban maksimal dan kadang diperparah dengan penghukuman yang berlebihan. Kondisi serupa yang paling gampang terlihat adalah pada saat survival.</p>
<p>Apakah dalam konsep pendidikan yang membebaskan itu memang tidak mengenal hukuman dan disiplin? Tentu tidak, namun yang harus menjadi titik berat adalah apakah hukuman dan disiplin itu akan berdampak positif atau tidak? Hukuman yang diberikan harus terukur dan disiplin yang dimaksud harus masuk akal.<br />
Hukuman yang terukur adalah hukuman yang juga mempertimbangkan dampak dari hukuman itu, ia juga mempertimbangkan kondisi aktual peserta didik. Toh nyatanya, dalam konsep pendidikan modern, banyak sekali contoh hukuman yang tidak berupa fisik. Disiplin yang masuk akal adalah disiplin yang diterapkan secara adil dan tidak emosional. Dan tentunya, untuk menumbuhkan disiplin itu bukan dari besar kecilnya ganjaran di balik itu, sebab kunci dari disiplin adalah konsistensi.</p>
<p>Mari kita bandingkan dengan Pendas. Sudahkah kebebasan itu dirasakan siswa, sudahkan mereka nyaman sehingga dapat menyerap ilmu secara lebih maksimal?</p>
<p>Ada semacam &#8216;ketakutan&#8217; yang selama ini mengitari panitia, siswa sama sekali tidak boleh mengetahui ROP contohnya, siswa sama sekali tidak tahu berapa hari masa pendidikan dasar ini? Mengapa ini dilakukan? Dan apakah itu perlu? Jika berpatokan pada pendidikan yang memebaskan itu, tentu tak ada alasan menutupi ROP.</p>
<p>Berpatokan pada kasus survival, seperti tergambar dalam pernyataan Bedjat di forum diskusi, kalau dihubungkan dengan konsep pendidikan yang membebaskan itu, maka menurut saya, sangat wajar kalau siswa tidak menyerap secara penuh materi yang diberikan. Dalam kondisi fisik yang sedemikian lemah, ditambah kondisi alam yang tidak biasa, dan tuntutan panitia, apakah ini kondisi ideal bagi mereka untuk menyerap pengetahuan tentang survival?</p>
<p>Makanya jangan heran, sangat sedikit siswa yang berhasil membuat api dalam kondisi seperti tergambar pada masa surivival. Tidak bisa membuat api, sebab mental mereka sudah terlalu lemah. Jika pun ada, kadang hanya bersifat keberuntungan. Padahal, kunci utama keberhasilan dari survival adalah mental siswa itu sendiri. Mereka harus memiliki keyakinan untuk bertahan walau dalam kondisi seminim apa pun.</p>
<p>Saya percaya, dengan memberikan kebebasan yang pantas kepada siswa, tentu penyerapan ilmu itu akan lebih maksimal. Saya percaya dengan keterbukaan, baik itu keterbukaan dari paniti maupun keterbukaan dan kejelasan informasi siswa akan lebih siap menyerap ilmu itu.</p>
<p>Doktrin Militeristik Yang Setengah-setengah</p>
<p>Pendidikan dasar astacala, sedikit banyak mengadopsi pendidikan dasar Wanadri. Hal ini wajar, sebab angkatan Perintis berada dalam didikan Wanadri. Menurut saya, dalam pendas Wanadri, sedikit mengarah pada pendidikan militer/semi militer. Hal ini ditandai dengan keterlibatan pejabat-pejabat militer di lingkungan Wanadri.</p>
<p>Satu hal yang menjadi kunci dalam pendidikan ala militer adalah doktrin, yakni adanya pemaksaan untuk menjejalkan sesuatu pada kepada seseorang dengan cara-cara tertentu. Dan adanya bentrok fisik, tentunya.</p>
<p>Hal ini tentu ditentang oleh Pendas Astacala yakni dengan meniadakan bentrok fisik dalam bentuk apa pun kepada siswa. Tapi benarkah pola pendidikan militeristik sudah tak ada?</p>
<p>Beberapa angkatan terdahulu sedikit heran, melihat Pendas kemarin &#8220;Kok sekarang modelnya bentak-bentak ya&#8221;</p>
<p>Saya tidak paham, apakah model bentak-bentak yang dimaksud ini sudah menjadi kebiasaan atau hanya berlaku pada pendas kemarin saja. Yang saya lihat, dengan pola bentak-bentak itu ada semacam pemaksaan ketegasan, tujuannya mungkin memberikan efek takut kepada siswa. Saya khawatir dengan kecenderungan seperti ini, lama-lama Pendas Astacala akan mengarah pada pendas yang bersifat semi militer. Awalnya mungkin bentak-bentak, tapi mungkin selanjutnya lebih dari itu.</p>
<p>&#8212;<br />
Sudah semestinya kita harus membongkar ulang pemahaman kita tentang pendidikan dasar astacala, berpikir ulang tentang apa itu Astacala. Seperti bermain lego, ia menjadi asyik bukan karena berhasil membuat satu bentuk saja, tapi lebih utama ketika kita berhasil membongkar ulang dan menatanya kembali menjadi bentuk lain yang labih unik dan menarik. Barangkali itulah pendas yang hendak saya maksud.</p>
<p>&#8211; diskusi tentang topik ini dapat ditelusuri di forum diskusi <a href="http://astacala.org/diskusi/">http://astacala.org</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jimipiter.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jimipiter.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jimipiter.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jimipiter.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jimipiter.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jimipiter.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jimipiter.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jimipiter.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jimipiter.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jimipiter.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jimipiter.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jimipiter.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jimipiter.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jimipiter.wordpress.com/104/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jimipiter.wordpress.com&amp;blog=1872283&amp;post=104&amp;subd=jimipiter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jimipiter.wordpress.com/2012/01/19/pendidikan-dasar-astacala-antara-konsep-pendidikan-salah-kaprah-dan-doktrin-militeristik-yang-setengah-setengah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/615fa86980b865aad44da1bec06a1f46?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jimipiter</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat Datang Angkatan Baru</title>
		<link>http://jimipiter.wordpress.com/2012/01/16/selamat-datang-angkata-baru/</link>
		<comments>http://jimipiter.wordpress.com/2012/01/16/selamat-datang-angkata-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 04:06:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jimi Piter</dc:creator>
				<category><![CDATA[Astacala]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[astacala. anggota baru]]></category>
		<category><![CDATA[Lembah Hujan]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jimipiter.wordpress.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Langkah-langkah itu begitu berat, limbung dan kaku. Tatapan mereka begitu layu, seperti tak kuat menahan lelah. Rambut kusut dan baju yang penuh lumpur, seperti ingin membagikan cerita, sepuluh hari penuh perjuangan, penuh derita dan pengalaman yang barangkali berlum pernah dan tak pernah ada dalam benak mereka. Tas carrier yang tak seberapa berat itu seperti menggelantung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jimipiter.wordpress.com&amp;blog=1872283&amp;post=89&amp;subd=jimipiter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_95" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://jimipiter.files.wordpress.com/2012/01/lh2.jpg"><img class="size-medium wp-image-95" title="Angkatan Lembah Hujan, Astacala" src="http://jimipiter.files.wordpress.com/2012/01/lh2.jpg?w=300&#038;h=200" alt="Penutupan Pendas XX Astacala, 15 Januari 2012, Ranca Upas CWD" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Angkatan Lembah Hujan, Astacala</p></div>
<p>Langkah-langkah itu begitu berat, limbung dan kaku. Tatapan mereka begitu layu, seperti tak kuat menahan lelah. Rambut kusut dan baju yang penuh lumpur, seperti ingin membagikan cerita, sepuluh hari penuh perjuangan, penuh derita dan pengalaman yang barangkali berlum pernah dan tak pernah ada dalam benak mereka. Tas carrier yang tak seberapa berat itu seperti menggelantung kuat di pundak-pundak kaku dan lemah itu. Ada yang berusaha menguat-nguatkan diri dengan berdiri lebih tegak, tapi lebih banyak yang menunduk lesu, badan gagah itu sudah tak ada, wajah ceria khas anak muda itu sudah lenyap seketika. Hanya lewat sepuluh hari saja.</p>
<p>Di kaki yang dingin dan sepatu yang basah, aku berdiri di hadapan mereka, mencoba menerawang apa yang ada dalam benak-benak itu, apa yang ada dalam gelora mereka. Tiba-tiba selintas masa lalu menyilang di pikiranku. Sembilan tahun yang lalu, di tempat yang sama dan dalam posisi yang sama, aku berdua saja berdiri seperti mereka. Mungkin tak ada beda, tapi mungkin juga ada banyak bedanya.</p>
<p>Keletihan, kata orang, jika digabungkan dengan banyak keletihan, maka ia akan menghadirkan sakit tak terangkat. Sebaliknya, semangat jika dirangkum dari berbagai semangat, walau itu sedikit, mampu memberikan efek sehat yang tiada terkira. Sedikit semangat bisa menjelma menjadi segunung harapan jika ia mampu disinergikan dengan tepat. Tak peduli berapa letih tubuh yang menyanggahnya itu.</p>
<p>Buktinya, ketika sedikit demi sedikit mereka menyadari bahwa pagi itu adalah akhir dari jerih dan derita mereka, mata-mata itu mulai bercahaya. Seperti sepercik api, ia menyebar, membesar dan sanggup menghanguskan segala.</p>
<p>Tubuh yang semua lemah, perlahan bangkit, kepada yang semula menunduk pelan dan pasti menegak. Dan semuanya demikian.</p>
<p>Mereka kemudian mengusulkan sebuah nama untuk diri mereka, Lembah Hujan. Sebuah nama yang menurut mereka adalah perlambang yang tepat untuk penderitaan dan kerja keras mereka, sepuluh hari yang lewat.</p>
<p>Ketika giliranku berbicara, entah kenapa kata-kata yang sempat menggaung dalam pikiran itu tidak keluar. Ini sebetulnya yang ingin ku katakan : &#8220;Hei, anak muda, tidakah kau sadari, bahwa 10 hari itu hanya sedikit, tapi kalian sudah kalah. Dan dari sepuluh hari itu, tak ada yang kalian dapat, kecuali letih dan lelah, kecuali derita dan sedikit sesal&#8221;</p>
<p>Dalam bayanganku itu, aku melihat mereka menunduk seperti malu pada kenyataan, bahwa sebetulnya mereka bisa tak kalah, kalau saja mereka mampu memberi semangat pada diri mereka sendiri, kalau saja mereka bisa menghidupi semangat itu.</p>
<p>Lalu kulanjutkan begini &#8220;Lihatlah, ketika mengetahui derita yang kalian anggap perjuangan itu segera berakhir, semangat kalian seperti lahir lagi. Kenapa kalian tertipu? Kenapa kalian kalah oleh keletihan yang bisa dilawan?&#8221;</p>
<p>Sepuluh hari yang telah lewat itu, hanyalah awal yang sangat singkat. Hanya uji tak layak untuk melihat, apakah kalian adalah benar dan tahu apa yang hendak kalian masuki? Astacala hanya sebuah tempat, untuk kemudian menjadi rumah bagi mereka yang mengklaim diri mereka sebagai manusia yang sadar alam, sadar lingkungan.</p>
<p>Aku sebetulnya ingin berbicara tentang lingkungan yang semakin rusak oleh ulah manusia, oleh tindakan yang menjadi bagian dari keseharian kita. Tapi entah kenapa, kata-kata itu tak pernah keluar. Mulutku menjadi kaku.</p>
<p>&#8220;Selamat datang, angkatan baru. Jangan sia-siakan slayer merah yang baru tersemat di lehermu itu. Merah itu sederhana, tapi ia perlambang untuk semangat Astacala. Ia tak mati, dan tak akan pernah&#8221;</p>
<p>Maka dari itu jagalah.</p>
<p>Kata-kata itu akhirnya tak pernah muncul, persis ketika aku ingat sebuah pepatah, alamlah guru yang terbaik.</p>
<p>Lembah Hujan, biarlah mereka berdiri dari langkah mereka sendiri. Biarlah mereka lahir dari sesuatu yang mereka anggap sebagai rahim ibu mereka sendiri. Biarlah mereka memahami Astacala, ketika mereka sanggup untuk menghuni tempat itu dengan cara dan kesadarannya sendiri.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jimipiter.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jimipiter.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jimipiter.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jimipiter.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jimipiter.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jimipiter.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jimipiter.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jimipiter.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jimipiter.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jimipiter.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jimipiter.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jimipiter.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jimipiter.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jimipiter.wordpress.com/89/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jimipiter.wordpress.com&amp;blog=1872283&amp;post=89&amp;subd=jimipiter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jimipiter.wordpress.com/2012/01/16/selamat-datang-angkata-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/615fa86980b865aad44da1bec06a1f46?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jimipiter</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jimipiter.files.wordpress.com/2012/01/lh2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Angkatan Lembah Hujan, Astacala</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Untuk Istriku&#8230;</title>
		<link>http://jimipiter.wordpress.com/2011/10/07/untuk-istriku/</link>
		<comments>http://jimipiter.wordpress.com/2011/10/07/untuk-istriku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Oct 2011 08:40:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jimi Piter</dc:creator>
				<category><![CDATA[Astacala]]></category>
		<category><![CDATA[Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jimipiter.wordpress.com/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[Kalau dipikir-pikir, hidup ini memang tidak sederhana. Benturan-benturan yang terlalu sering terjadi, menjadikan alur yang semestinya lurus jadi kusut. Jalan yang lengang menjadi terlalu ramai dan gaduh. Bersinggungan dengan masalah, kadang tidak menjadi sebuah pengalaman yang positif, malah sebaliknya, ia menjadi seperti kerikil yang menghalangi jalan. Sering aku pandangi wajahnya tatkala ia sedang pulas tertidur, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jimipiter.wordpress.com&amp;blog=1872283&amp;post=69&amp;subd=jimipiter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jimipiter.files.wordpress.com/2011/10/313764_2203239714113_1040940959_2559400_2126435_n.jpg"><img class="size-medium wp-image-79 alignleft" title="313764_2203239714113_1040940959_2559400_2126435_n" src="http://jimipiter.files.wordpress.com/2011/10/313764_2203239714113_1040940959_2559400_2126435_n.jpg?w=216&#038;h=144" alt="keluarga kecil kami" width="216" height="144" /></a> Kalau dipikir-pikir, hidup ini memang tidak sederhana. Benturan-benturan yang terlalu sering terjadi, menjadikan alur yang semestinya lurus jadi kusut. Jalan yang lengang menjadi terlalu ramai dan gaduh. Bersinggungan dengan masalah, kadang tidak menjadi sebuah pengalaman yang positif, malah sebaliknya, ia menjadi seperti kerikil yang menghalangi jalan.</p>
<p>Sering aku pandangi wajahnya tatkala ia sedang pulas tertidur, tangannya yang santun memeluk erat si kecil, buah hati kami. Hatiku mendadak terenyuh, menyaksikan kedamaian yang tersembunyi di balik kepulasan itu. Celakalah, bagi mereka yang mendapatkan kedamaian hanya pada saat ia sedang terlelap, pikirku.</p>
<p>Sudah tiga tahun kami merajut impian secara bersama. Mencoba belajar menjadi orang tua, menjadi pasangan hidup dan berjuang menunaikan ikrar yang pernah kami ucapkan. Ada banyak hal yang menjadikan mimpi-mimpi itu tidak menjadi kenyataan, ada banyak kemungkinan yang menjadikan andai-andai itu lebur di tengah jalan. Itulah mengapa aku berani menyebut sebuah kesimpulan, bahwa hidup ini memang tidak sederhana.</p>
<p>Sebuah niat baik, rasanya tidak akan tercapa jika hanya berhenti pada niat itu saja. Ia harus diterjemahkan dengan cucuran keringat, dengan dukungan tekad yang tidak sedikit.</p>
<p>Menjalani hidup secara bersama, seperti mendayung sampan kayu di atas telaga. Harus ada harmoni antara dayung kiri dan dayung kanan. Penghuni sampan kayu itu idak hanya harus pintar mendayung, tapi ia juga harus bersiap mempertahankan keseimbangan ketika ombak datang, kecil atau pun besar.</p>
<p>&#8220;Kita baru saja melewati tahun ketiga kebersamaan ini, istriku&#8230;&#8221; kataku padanya suatu pagi. Dan lihatlah, apa yang telah kita lakukan, jalan yang terasa panjang itu ternyata masih terlalu pendek, bahkan untuk sebuah cerita pada anak-anak kita. Kisah itu sama sekali belum terajut, ia hanya menjadi pengalan-pengalan mozaik. Tapi itulah kita, itulah kebersamaan kita. Cemburulah kita pada mereka yang telah menjadi orang tua puluhan tahun lamanya.</p>
<p>Dengan apa yang telah kami lalui, semoga sampan kayu ini semakin seimbang melaju membelah waktu, menahan helaan badai yang tidak pernah kita perkirakan. Semoga lindungan-NYA menaungi kegembiraan yang hendak dibina.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jimipiter.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jimipiter.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jimipiter.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jimipiter.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jimipiter.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jimipiter.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jimipiter.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jimipiter.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jimipiter.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jimipiter.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jimipiter.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jimipiter.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jimipiter.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jimipiter.wordpress.com/69/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jimipiter.wordpress.com&amp;blog=1872283&amp;post=69&amp;subd=jimipiter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jimipiter.wordpress.com/2011/10/07/untuk-istriku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/615fa86980b865aad44da1bec06a1f46?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jimipiter</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jimipiter.files.wordpress.com/2011/10/313764_2203239714113_1040940959_2559400_2126435_n.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">313764_2203239714113_1040940959_2559400_2126435_n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nasi Padang Untuk Ayah&#8230;</title>
		<link>http://jimipiter.wordpress.com/2011/10/03/nasi-padang-untuk-ayah/</link>
		<comments>http://jimipiter.wordpress.com/2011/10/03/nasi-padang-untuk-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Oct 2011 03:19:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jimi Piter</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[kasih sayang]]></category>
		<category><![CDATA[nasi padang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jimipiter.wordpress.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[[Sabtu, 1 Oktober 2011] Hari ini, kali kedua aku membawa ayah untuk berobat ke Depok. Setelah sabtu yang lalu, mengantarnya untuk pertama kali. Entah mengapa, ketika sedang membonceng ayah (&#8216;ayah&#8217; bukan panggilan yang biasa bagiku kepadanya), aku merasa melankolis, mungkin sejak kedatangan beliau dari kampung beberapa hari yang lau. Ayah sudah terlihat jauh lebih tua [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jimipiter.wordpress.com&amp;blog=1872283&amp;post=61&amp;subd=jimipiter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jimipiter.files.wordpress.com/2011/10/312742_2014732773510_1399540831_31769558_317971947_n.jpg"><img class="size-medium wp-image-63 alignleft" title="Ayah dan keluargaku" src="http://jimipiter.files.wordpress.com/2011/10/312742_2014732773510_1399540831_31769558_317971947_n.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>[Sabtu, 1 Oktober 2011] Hari ini, kali kedua aku membawa ayah untuk berobat ke Depok. Setelah sabtu yang lalu, mengantarnya untuk pertama kali. Entah mengapa, ketika sedang membonceng ayah (&#8216;ayah&#8217; bukan panggilan yang biasa bagiku kepadanya), aku merasa melankolis, mungkin sejak kedatangan beliau dari kampung beberapa hari yang lau.</p>
<p>Ayah sudah terlihat jauh lebih tua ketimbang satu tahun yang lalu, ketika aku pulang ke rumahnya. Perubahan drastis itu tentu membuatku bertanya-tanya, sudahkah aku melewatkan hari-harinya terlalu lama? Atau kehadiran perubahan itu hanya secuil cerita tuk mengingatkanku akan jerih yang telah itu persembahkan selama ini. Emak (panggilan biasa kepada ibu), lebih sering menceritakan tentang keluh kesah di kampung dibanding menceritakan kondisi ayah secara terinci. Maka jadilah, kedatangannya kali ini, memberikan kejutan kepadaku, istri dan anakku, ada kegembiraan, ada juga sedih melihat kondisinya.</p>
<p>Ia mungkin seperti orang tua pada biasanya, di kampungku. Sosok yang kuat untuk berhadapan dengan kerasnya alam, mencoba membentengkan diri sebagai sandaran hidup. Ia, dulunya kukenal sebagai seorang yang perkasa untuk ukuranku. Sering aku membayangkan menjadi dirinya ketika sedang berjalan pulang dari kebun bersamanya.</p>
<p>Mungkin aku kurang dekat dengannya, sebab lantaran tuntutan hidup, aku harus berpisah dengan Ayah dan Emak beberapa lama, aku sekolah di kampung, dan mereka mengembara di tengah hutan belantara Pal VIII Curup. Itu tadi, untuk menjaga keutuhan ekonomi keluarga besar kami. Bertahun-tahun, aku menganggap hal itu sebagai sesuatu yang biasa, dan mereka pun, mungkin beranggapan yang sama.</p>
<p>Kasih sayang, tidak senantiasa sampai dengan harus berdekap erat, tapi ia bisa menyusup lewat hembusan angin yang entah datang dari mana. Kasih sayang, tidak hanya lewat kecupan di kening atau butiran kata-kata. Tapi ia juga tersembunyi dengan unik pada uraian-uraian ungkapan lewat surat atau pesan semata.</p>
<p>Kini, sosok yang kuinginkan itu, telah berada di dekat kami, di dalam rumah kecil kami. Untuk sekedar melepas rindu kepada cucu-nya, mungkin juga kepadaku. Ya, aku menyesali, ketika menyadari kerentaannya yang kian nyata.<br />
***</p>
<p>Ayah membonceng di belakangku. Kadang kakinya mengapit rapat badanku ketika aku membawa motor melewati kemacetan Jakarta. Mungkin ayah tidak terbiasa berkendaraan dengan suasana yang begitu ramai seperti ini.</p>
<p>Sesampai di tempat berobat, kami hanya di periksa sebentar saja. Ayah, menurut tabib itu hanya mengalami pengapuran.</p>
<p>Hari telah beranjak siang ketika aku membawa ayah pulang. Dihimpit sesaknya jalanan di Jakarta, kutepikan motor di sebuah rumah makan Padang. Aku tahu, kami memang sudah sangat kelaparan saat itu.</p>
<p>Kupesankan gulai ayam dan sayur nangka&#8212;gulai yang biasa bagi masyarakat di kampungku. Ayah makan begitu lahap, begitu juga dengan aku. Menyaksikan ia sedang nikmat menyantap masakan padang itu, terharu tak hingga rasanya. Ingat ketika dulu, waktu aku masih kecil, ia mengajakku untuk makan di warung Padang. Bagiku, dulu, itu adalah sebuah kemewahan. Dan semoga ayah mendapatkan hal yang serupa dengan ketika ia mengajakku dulu.</p>
<p>Sorenya, istriku langsung membelikan susu khusus untuk tulang dan menghadiahkan kepada ayah. Kuintip, ia tersenyum menerima pemberian menantu perempuannya itu.</p>
<p>Tak banyak yang dapat kami berikan kepadamu ayah, barangkali jauh jika dibandingkan dengan apa yang telah engkau persembahkan kepada kami. Semoga lindungan Allah selalu menyertai, di sisa-sisa harimu nanti.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jimipiter.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jimipiter.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jimipiter.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jimipiter.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jimipiter.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jimipiter.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jimipiter.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jimipiter.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jimipiter.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jimipiter.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jimipiter.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jimipiter.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jimipiter.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jimipiter.wordpress.com/61/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jimipiter.wordpress.com&amp;blog=1872283&amp;post=61&amp;subd=jimipiter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jimipiter.wordpress.com/2011/10/03/nasi-padang-untuk-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/615fa86980b865aad44da1bec06a1f46?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jimipiter</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jimipiter.files.wordpress.com/2011/10/312742_2014732773510_1399540831_31769558_317971947_n.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Ayah dan keluargaku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ramadhan telah tiba&#8230;</title>
		<link>http://jimipiter.wordpress.com/2010/08/16/ramadhan-telah-tiba/</link>
		<comments>http://jimipiter.wordpress.com/2010/08/16/ramadhan-telah-tiba/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Aug 2010 03:23:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jimi Piter</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jimipiter.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Menjelang sahur pertama beberapa hari yang lalu, istriku bertanya, &#8220;Mau sahur sama apa, Mas?&#8221; &#8220;Lho, kok nanya, memangnya kita mau sahur sama apa, banyak pilihannya ya?&#8221; jawabku balik bertanya. Ya istriku jelas sebal, ditanya malah balik menanya. Bukannya banyak pilihan, tapi ini kan puasa pertama, ya pantas kalau memberikan sedikit makanan yang berbeda dari biasanya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jimipiter.wordpress.com&amp;blog=1872283&amp;post=52&amp;subd=jimipiter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menjelang sahur pertama beberapa hari yang lalu, istriku bertanya, &#8220;Mau sahur sama apa, Mas?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lho, kok nanya, memangnya kita mau sahur sama apa, banyak pilihannya ya?&#8221; jawabku balik bertanya. Ya istriku jelas sebal, ditanya malah balik menanya. </p>
<p>Bukannya banyak pilihan, tapi ini kan puasa pertama, ya pantas kalau memberikan sedikit makanan yang berbeda dari biasanya. Ramadhan cuma setahun sekali, dan sahur pertama juga cuma sekali. Begitu kira-kira penjelasan istriku. Gambaran seperti ini, mungkin mirip untuk semua orang. Di bulan ini, di bulan Ramadhan.</p>
<p>Ramadhan selalu ditandai dengan kenaikan harga kebutuhan pokok. Sebuah analisa subjektif mengatakan bahwa kenaikan itu bukan disebabkan oleh faktor utama penyebab kenaikan harga, namun lebih banyak disebabkan oleh faktor non teknis, yakni kebiasaan masyarakat meningkatkan konsumsi di bulan ini. Terbalik bukan? Sebuah bulan yang mewajibkan ummat untuk menahan lapar dan dahaga, dari 3 kali sehari menjadi dua kali saja&#8212;sahur dan buka. Pada siang hari, kita diharuskan untuk tidak melakukan itu, seperti hari-hari biasanya.</p>
<p>Logikanya, bukankah dengan pengurangan itu maka semestinya berkurang pula kebutuhan&#8212;minimal untuk kebutuhan makan dan minum. Seandainya prosentasenya dibagi tiga, maka bukankah pada bulan Ramadhan kita hanya memerlukan perngeluaran dua per tiga bagian saja?</p>
<p>Oh rupanya tidak. Ketika Ramadhan datang, maka godaan rupanya semakin memberat. Kita yang sehari-hari dengan kondisi perut nyaman sepanjang hari, maka pada bulan ini, kenyamanan itu akan dihentikan sementara. Perut yang tidak nyaman, rupanya memberikan dampak pada kita untuk berpikir tidak realistis lagi.</p>
<p>Sejatinya, puasa, selain mewajibkan pelakunya untuk tidak makan dan tidak minum, menurut para ahli agama, ia juga mendidik kita supaya bisa menahan diri, dari segala godaan&#8212;yang diyakini akan berdampak negatif bagi manusia, entah itu secara fisik atau mental. Menahan lapar, bukankah kita juga belajar merasakan rasa yang sama, laparnya perut kaum miskin yang sering kita abaikan? Menahan gejolak nafsu&#8212;semua jenis nafsu&#8212;bukankah mengajarkan kepada kita untuk bisa mengontril diri?</p>
<p>Kontrol itulah yang sulit, dan tidak semua orang akan mendapatkannya pada saat nanti lebaran tiba. Manusia tidak kembali pada fitrahnya.</p>
<p>Gambaran tentang kenaikan harga dan tingkat konsumsi, berlaku secara umum. Dan ini, menjadikan sebuah paradoks tentang esensi dari puasa itu sendiri. Kita kadang tidak menyadari, bahwa apa yang kita lakukan&#8212;sebagai sebuah kebiasaan&#8212;nyatanya adalah cermin tentang diri kita sendiri.</p>
<p>Mari kita perajari baik-baik lagi, apa itu puasa, apa tujuannya dan apa esensinya.</p>
<p>Ramadhan telah tiba, dan kita rupanya masuk dengan kurang persiapan. Tapi tak apalah, sedikit banyak, ada yang dapat kita pelajari.</p>
<p>Ciledug, 16 Agustus 2010</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jimipiter.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jimipiter.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jimipiter.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jimipiter.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jimipiter.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jimipiter.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jimipiter.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jimipiter.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jimipiter.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jimipiter.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jimipiter.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jimipiter.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jimipiter.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jimipiter.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jimipiter.wordpress.com&amp;blog=1872283&amp;post=52&amp;subd=jimipiter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jimipiter.wordpress.com/2010/08/16/ramadhan-telah-tiba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/615fa86980b865aad44da1bec06a1f46?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jimipiter</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rumah Kita*</title>
		<link>http://jimipiter.wordpress.com/2010/08/07/rumah-kita/</link>
		<comments>http://jimipiter.wordpress.com/2010/08/07/rumah-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Aug 2010 02:57:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jimi Piter</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[belajar orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jimipiter.wordpress.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;hanya alang-alang, pagar rumah kita, tanpa anyelir, tanpa melati&#8230;&#8221; Akhir-akhir ini, suasana rumah serasa lebih semarak, lebih hangat, juga lebih sibuk. Entahlah, pastinya karena apa. Yang jelas, seisi rumah seperti memiliki obsesi untuk lebih sibuk, lebih memperhatikan keberadaan rumah. &#8220;Sebentar lagi puasa, mbok ya rumah dibersihkan&#8230;&#8221; istriku berkata sambil mengelap kaca depan yang berdebu. &#8220;Cobalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jimipiter.wordpress.com&amp;blog=1872283&amp;post=40&amp;subd=jimipiter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;hanya alang-alang, pagar rumah kita, tanpa anyelir, tanpa melati&#8230;&#8221;</em></p>
<p>Akhir-akhir ini, suasana rumah serasa lebih semarak, lebih hangat, juga lebih sibuk. Entahlah, pastinya karena apa. Yang jelas, seisi rumah seperti memiliki obsesi untuk lebih sibuk, lebih memperhatikan keberadaan rumah.</p>
<p>&#8220;Sebentar lagi puasa, mbok ya rumah dibersihkan&#8230;&#8221; istriku berkata sambil mengelap kaca depan yang berdebu. &#8220;Cobalah mas bantu membersihkan sarang laba-laba yang banyak diruang tamu dan ruang belakang itu&#8230;&#8221; lanjutnya.</p>
<p>Aku kemudian memang membantu membersihkan rumah. Rumah kecil dan sederhana yang ini bertahun-tahun telah kami huni bersama, aku, istri dan buah hatiku. Jendela kaca yang terlihat bersih dari kejauhan, setelah dilap dengan kain basah, nyatanya meninggalkan debu yang cukup tebal. &#8220;Jakarta ya begini, kalau kita malas, siap-siap rumahnya tertelan debu, dirusak rayap dan digelantungi sarang laba-lab&#8221; sergah istriku seperti menyimpulkan apa yang sedang aku pikirkan.</p>
<p>&#8220;Apa kita pulang kampung dulu saja mas, bulan puasa ini?&#8221; tanyanya.</p>
<p>Aku tidak segera menjawab. Pulang! Penggalan kata itu sudah terlalu lama tidak aku dengar, sebuah kata yang selama ini terlupakan. Seperti juga melupakan keinginan dan rasa kangen dengan kampung halaman.</p>
<p>&#8220;Ah, ndak usah. Rumah kita kan di sini&#8230;&#8221; bantahku.</p>
<p>&#8220;Tapi apa mas ndak kangen toh, sama bapak, sama ibu, sama sanak saudara di kampung. Sudah lama loh, kita ndak pulang&#8221;</p>
<p>Selama ini, ada-ada saja yang kujadikan alasan untuk tidak melaksanakan tradisi itu. Pulang sudah seperti menjadi tradisi, tidak hanya pada musim lebaran, musim puasa, barangkali kalau dirunut lebih jauh, tradisi pulang mungkin bukan cuma tradisi, tapi sejarah panjang hidup manusia. Dari lahir, hidup, dan mati. Atau sejarah penemuan jati diri manusia, dari awal tak mengerti apa-apa, belajar memaknai hidup, terlibat pertikaian-pertikaian, pun kadang juga ada yang menyatakan ingin kembali, pada jalan yang lebih benar, jalan yang semula telah difitrahkan pada diri manusia.</p>
<p>Aku sendiri. Orang yang selama ini hidup dengan paham ugal-ugalan, tak punya konsep yang cukup jelas tentang hidup, tapi tetap mencoba untuk menghantam kecongkakan ibu kota, kota yang menjadi tujuan mencari nafkah. Tapi toh, tetap saja terkadang memiliki sisi-sisi sentimentil. Tengah malam, di saat seisi rumah sedang tertidur, ada-ada saja bisikan-bisikan itu. Sebuah suara dari balik angin, sebuah panggilan dari belahan kabut: untuk kembali, kembali pada posisi yang terbayangkan lebih baik.</p>
<p>Pulang memang bahasa yang memiliki dimensi yang unik. Tak terbantahkan, ribuan bahkan jutaan orang hilir mudik melakukan perjalan itu, perjalanan pulang. Ia selain sebagai sebuah perjalanan, tetapi memiliki nilai tidak sekedar itu. Ada sejarah yang rumit yang berlangsung dalam penggalan kata itu.</p>
<p>Lihatlah, sebelum pulang, orang akan memberikan persiapan yang ekstra. Dengan harapan, ketika muka ini terlihat oleh orang-orang yang selama ini dikesankan menunggu, adalah bahwa kami bukanlah orang-orang yang kalah. Kami pulang bukan sebagai tanda menyerah, tapi kami pulang dengan kebanggaan, bahwa langkah kaki kami telah berlalu lebih menjauh.</p>
<p>Orang-orang akan menjadikan pulang sebagai sarana untuk menghias diri. Atau sarana untuk mengingat kembali. Kenangan-kenangan masa lalu, kisah-kisah yang begitu nyata, berkelindan dalam pikiran. Manis dan pahit, rasanya sama, enak untuk diulang-ulang. Maka senyum pun, sebagai isyarat kedatangan, selalu setia menghiasi muka kita pada detik-detik kepulangan itu tiba.</p>
<p>&#8220;Yo wes toh mas, kok jadinya melamun terus. Kalau memang ndak setuju, kita ndak usah pulang dulu tahun ini&#8230;.&#8221; suara istriku tiba-tiba menyadarkan, sekaligus melegakan.</p>
<p>Pulang membutuhkan persiapan, lahir dan bathin. Kesiapan lahir kadang mudah untuk dilakukan, tapi bathin, hanya dirinya sendiri yang lebih tahu. Sebab, bersiap pulang, maka bersiap pula untuk menjawab pertanyaan ini dan itu dari keluarga di rumah lama. Mereka yang bertanya barangkali tidak terlalu berharap pada jawaban yang jujur, tapi kita yang menjawab selalu terbebani dengan keinginan untuk memberikan yang terbaik. &#8220;Bahwa kami pulang, bukan sebagai orang yang kalah&#8230;&#8221;</p>
<p>Istriku sudah selesai membersihkan debu-debu itu, dan aku sudah ia bantu pula. Pada saat mengaso, kukatakan sesuatu padanya.</p>
<p>&#8220;<em>Lebih baik di sini</em> saja ya, walau sederhana dan tak seberapa isinya, rumah ini, adalah <em>rumah kita sendiri</em>&#8230;.&#8221;</p>
<p>Maka ke sinilah seharusnya kita kembali, ke sinilah untuk sepanjang hidup, kita akan kembali. Sebuah rumah, yang kita sendiri memiliki rahasianya. Sebab, kembali yang abadi memang bukan di mana-mana, dan juga bukan ke mana-mana. Rumah kita yang abadi, bukan di sini! Maka kembali kita yang hakiki, juga bukan di dunia ini.</p>
<p>&#8220;Mari kita lantunkan doa untuk arwah-arwah yang telah mendahului kita, sebab kita tidak sempat untuk berziarah. Mari, kita kirimkan bingkisan kata terindah, walau kita tak sanggup menampakan muka kita pada keluarga di sana&#8230;.&#8221; pintaku pada istriku.</p>
<p>Ia pun tersenyum. Dan entah kenapa, senyumnya terlihat lebih manis, bahkan sangat manis.</p>
<p>Terima kasih, Allah, telah kau anugerahkan pada kami kehangatan yang sederhana. Yang membawa kami pada kebahagiaan tak terhingga. Terima kasih juga, telah memberikan kesempatan kepada kami untuk kembali, berharap dan bersiap menyambut bulan agungMU, dengan ijinMU.</p>
<p>Ciledug, Akhir Sya&#8217;ban 1431 H</p>
<p><em>*<a href="http://www.newsmusik.net/chord/gbless-rmhkt.html">Rumah Kita</a> adalah sebuah judul lirik karya Ian Antono dan Theodore KS, lagu ini di populerkan oleh Good Bless.</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jimipiter.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jimipiter.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jimipiter.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jimipiter.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jimipiter.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jimipiter.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jimipiter.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jimipiter.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jimipiter.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jimipiter.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jimipiter.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jimipiter.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jimipiter.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jimipiter.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jimipiter.wordpress.com&amp;blog=1872283&amp;post=40&amp;subd=jimipiter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jimipiter.wordpress.com/2010/08/07/rumah-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/615fa86980b865aad44da1bec06a1f46?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jimipiter</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Puisi Angin</title>
		<link>http://jimipiter.wordpress.com/2010/08/04/puisi-angin/</link>
		<comments>http://jimipiter.wordpress.com/2010/08/04/puisi-angin/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Aug 2010 04:57:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jimi Piter</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jimipiter.wordpress.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Angin berpuisi mengisi hari, memberikan kesahajaan pada panas terik dataran yang membahana pada embun, ia berikan sebuah kecupan dingin, yang membara membawa kesahduan&#8230;. pada air, ia menari-nari seperti gemulai daun keladi&#8211;yang indah bergoyang di diamnya pagi, pagi-pagi sekali &#8220;Ingin kubacai, sejarah-sejarah yang menghilang terlindas waktu-waktu&#8230;&#8221; katanya pada segerombolan daun, ayun berayun. &#8220;Tak bisa kulupa, dunia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jimipiter.wordpress.com&amp;blog=1872283&amp;post=32&amp;subd=jimipiter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Angin berpuisi mengisi hari,</p>
<p>memberikan kesahajaan pada panas terik dataran yang membahana</p>
<p>pada embun, ia berikan sebuah kecupan dingin, yang membara membawa kesahduan&#8230;.</p>
<p>pada air, ia menari-nari seperti gemulai daun keladi&#8211;yang indah bergoyang di diamnya pagi, pagi-pagi sekali</p>
<p>&#8220;Ingin kubacai, sejarah-sejarah yang menghilang terlindas waktu-waktu&#8230;&#8221; katanya pada segerombolan daun, ayun berayun.</p>
<p>&#8220;Tak bisa kulupa, dunia yang mengcekam ini, yang menjadikan kami seperti layangan terserak&#8221; balas sang daun.</p>
<p>&#8220;Alam dan isinya tidak akan pernah lupa akan dirinya, pada saat mereka pergi dan tak kembali&#8230;&#8221;</p>
<p>Pada kawanan burung, ia bercerita:</p>
<p>Tentang awan yang menjelma menjadi hujan</p>
<p>Tentang senja yang menyemburatkan kegembiraan sekaligus kerahasiaan</p>
<p>&#8220;Kami tak peduli pada apa yang tak ada, yang kami lakukan adalah mensyukuri yang ada pada kami&#8230;&#8221; kata burung-burung itu sambil berlalu.</p>
<p>Angin menceritkan segala, berkata pada sejagad dunia</p>
<p>Angin menyembunyikan segala, ia merahasiakan misteri di balik detak-detak nafasnya&#8230;.</p>
<p>Seperti buku harian, aku catatkan kisah-kisah sejarah&#8230;.</p>
<p>Ciledug, Agustus 2010</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jimipiter.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jimipiter.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jimipiter.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jimipiter.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jimipiter.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jimipiter.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jimipiter.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jimipiter.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jimipiter.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jimipiter.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jimipiter.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jimipiter.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jimipiter.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jimipiter.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jimipiter.wordpress.com&amp;blog=1872283&amp;post=32&amp;subd=jimipiter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jimipiter.wordpress.com/2010/08/04/puisi-angin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/615fa86980b865aad44da1bec06a1f46?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jimipiter</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lagi-lagi Nama itu&#8230;!</title>
		<link>http://jimipiter.wordpress.com/2010/07/30/lagi-lagi-nama-itu/</link>
		<comments>http://jimipiter.wordpress.com/2010/07/30/lagi-lagi-nama-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 03:46:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jimi Piter</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jimipiter.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[&#8212;kutipan&#8212;&#62; “Tangan yang menyerahkan penghargaan ini penuh lumpur, yang membuat ribuan orang menderita,” katanya. “Saya berani melawan apa saja, kecuali hati nurani.” lanjutnya.&#60;&#8212;-dari www.tempointeraktif.com Itu merupakan kata-kata Daoed Joesoef, penerima penghargaan Bakrie Award 2010 untuk bidang pemikiran sosial. Dia adalah mantan menteri pendidikan dan kebudayaan di era orde baru. Ia adalah orang ketiga setelah Franz, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jimipiter.wordpress.com&amp;blog=1872283&amp;post=22&amp;subd=jimipiter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8212;kutipan&#8212;&gt;<br />
“Tangan yang menyerahkan penghargaan ini penuh lumpur, yang membuat  ribuan orang menderita,” katanya.</p>
<p>“Saya berani melawan apa saja, kecuali hati nurani.”   lanjutnya.&lt;&#8212;-dari www.tempointeraktif.com</p>
<p>Itu merupakan kata-kata Daoed Joesoef, penerima penghargaan Bakrie Award  2010 untuk bidang pemikiran sosial. Dia adalah mantan menteri  pendidikan dan kebudayaan di era orde baru. Ia adalah orang ketiga  setelah Franz, GM, penerima sebelumnya yang menolak dan mengembalikan  penghargaan tersebut. &#8211;Terakhir, ada Sitor Situmorang yang juga  menolak.</p>
<p>Alasan sederhana dari orang-orang ini melakukan penolakan tersebut  adalah karena sebuah nama, BAKRIE. Sebuah nama yang menjadi label pada  penghargaan itu. Ya, nama itu begitu lekat, tak bisa dielakkan dan tak  bisa dipisahkan. Sebuah lembaga lain, yang bekerja keras dan didukung  oleh orang-orang berkelas, yang menjadi pelaku lapangan untuk memilih  pemenang penghargaan ini menjadi mental dan sirna oleh nama itu.</p>
<p>Orang bisa saja memiliki pemahaman yang berbeda tentang penghargaan ini,  meski pada kenyataannya mungkin berbeda. Bahwa penghargaan ini adalah  salah satu usaha untuk menyucikan nama, bahwa bisa saja penghargaan ini  adalah usaha untuk meningkatkan derajat sebuah nama, yang kemudian akan  diambil keuntungan dari itu. Untuk sebuah posisi politik mungkin, atau  untuk menghindar dari tuduk khalayak yang bisa menenggelamkan.</p>
<p>Kedua pihak sama-sama mengklaim bahwa mereka saling menghargai. Dan  urusan tolak-menolak ini kemudian menjadi redup. Tapi toh, tetap saja,  pamor penghargaan itu bisa jadi menurun akibat langkah-langkah itu.  Pertanyaannya, siapakah diantara mereka yang benar-benar memiliki niat  tulus? Waktu, pastinya yang akan membuktikan.</p>
<p>Bakrie award, barangkali masih akan terus memberikan  penghargaan-penghargaan kepada siapa yang mau, dan mungkin saja mereka  akan mendapatkan implikasi positif dari hal itu. Sampai orang kemudian  melupakan bahwa pada awal-awal pemberian penghargaan ini, ada sebuah  kisah pernah terjadi penolakan dan pengembalian.</p>
<p>Sebagai tokoh, kita mesti salut kepada mereka-mereka yang masih punya  sikap yang tegas, pada mereka yang ingin menjaga kemerdekaan pemikiran  mereka. Kita mungkin tidak bisa membayangkan ketika para tokoh itu  kemudian menyerah. Barangkali kita akan sulit menyaksikan sebuah syair  ala Sitor, sebuah esai dalam dan berisi dari GM, atau kritik pedas dari  Daoed atau Franz.</p>
<p>Kita hanya dapat menduga-duga dari jauh saja. Barangkali ada yang  berpikiran begini, bagaimana kalau Daoed Joesoef dan kawan-kawan itu  menerima saja penghargaan itu, atau GM tak perlu mengembalikan uang  pemberian itu, tapi berikan saja langsung kepada warga Sidoarjo yang  terkena lumpur.</p>
<p>Mungkin mereka akan menjawab, berarti kami telah terbeli, kami tak  merdeka lagi. Kami ingin mereka langsung yang memberikan, yang artinya  adalah pengakuan dan kekalahan.</p>
<p>Harga diri manusia kadang terlalu tinggi, dan ego kadang tak ternilai  harganya. Dan kadang ia begitu kejam menyengsarakan, membunuh demikian  banyak orang.</p>
<p>salam<br />
&#8211;&gt;dari yang masih mengais rejeki, mungkin juga dari keluarga  itu&#8230;he..he&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jimipiter.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jimipiter.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jimipiter.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jimipiter.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jimipiter.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jimipiter.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jimipiter.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jimipiter.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jimipiter.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jimipiter.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jimipiter.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jimipiter.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jimipiter.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jimipiter.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jimipiter.wordpress.com&amp;blog=1872283&amp;post=22&amp;subd=jimipiter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jimipiter.wordpress.com/2010/07/30/lagi-lagi-nama-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/615fa86980b865aad44da1bec06a1f46?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jimipiter</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kepala Tiga</title>
		<link>http://jimipiter.wordpress.com/2010/07/27/kepala-tiga/</link>
		<comments>http://jimipiter.wordpress.com/2010/07/27/kepala-tiga/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jul 2010 01:50:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jimi Piter</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jimipiter.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Tepat jam 12 lewat satu menit kemarin malam, badanku tiba-tiba bergoyang tak biasa. Seperti ada yang memang sengaja membangunkan aku dari lelap tidur. &#8220;Bangun Bang&#8230;.bangun. Doa dulu!&#8221; suaranya membisik di telinga. &#8220;Doa apaan?&#8221; tanyaku masih dalam kondisi setengah sadar. &#8220;Yee&#8230;udah kepala tiga masih ga bisa berdoa juga. Ini tanggal berapa?&#8221; sergah istriku balik bertanya. &#8220;Astaga, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jimipiter.wordpress.com&amp;blog=1872283&amp;post=19&amp;subd=jimipiter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tepat jam 12 lewat satu menit kemarin malam, badanku tiba-tiba bergoyang  tak biasa. Seperti ada yang memang sengaja membangunkan aku dari lelap  tidur. &#8220;Bangun Bang&#8230;.bangun. Doa dulu!&#8221; suaranya membisik di telinga.</p>
<p>&#8220;Doa apaan?&#8221; tanyaku masih dalam kondisi setengah sadar.</p>
<p>&#8220;Yee&#8230;udah kepala tiga masih ga bisa berdoa juga. Ini tanggal berapa?&#8221;  sergah istriku balik bertanya.</p>
<p>&#8220;Astaga, ini rupanya hari itu&#8230;..&#8221;</p>
<p>Seingatku, ada tiga doa yang kuucapkan segera setelah itu. &#8220;Ya Allah,  jadikan umur yang telah engkau berikan sebagi sejarah ketulusan bagiku,  Ya Allah, jadikan umur yang engkau berikan sebagai ladang bagiku untuk  menambah kebaikan, Ya Allah jadikan sisa hidupku sebagai bagian dari  kesenangan dan kebahagiaan keluarga dan orang-orang di sekitarku&#8230;&#8221;,  pelan, namun terdengar jelas istriku berujar &#8220;Amiiinnnn&#8221;.</p>
<p>Sejenak terbayang hari ketika tiga puluh tahun yang lalu pada jam-jam  seperti ini. Mungkin Ibu sudah merasakan gejala kalau aku akan segera  dilahirkan. Terbayang juga, bagaimana Ibu kemudian menjadi pintu bagiku  untuk mengelana dunia dan isinya ini. Ya, tiga puluh tahun yang lalu.</p>
<p>Esoknya, diemail sudah puluhan remainder dari situs jejaring sosial. Ada  ucapan selamat, ada doa-doa, ada harapan, ada juga layangan kartu  digital. Intinya: SELAMAT!</p>
<p>Selamat! Tiba-tiba ada saja datang rasa bersalah, bukankah yang sudah  sekian ini aku belum dapat apa-apa, belum menjadi apa-apa dan belum  memberikan apa-apa. Lantas, aku apakan waktu yang begitu panjang itu?  Kesadaran kadang mendatangkan sesuatu yang pahit dan perih. Dan  celakanya, kita belum memiliki mesin waktu yang dapat diputar,  seandainya hendak mengulang. Semuanya hanya sekali jalan, lewat sedetik  saja, maka lewatlah. Ia kemudian menjadi masa lalu.</p>
<p>Hiruk pikuk keseharian kadang membuat kita menjadi lupa akan hal-hal  itu, akan detik-detik yang menghilang itu. Dan di suatu malam, terkadang  kita menangis sendiri, merenung tentang jeda waktu yang terlewati.  Kenangan lebih banyak menghadirkan penyesalan, dan penyesalan seperti  dinding-dinding sejarah yang memakan dan menguasai hidup manusia.</p>
<p>Tapi, ya. Hidup tidak pernah berhenti di sini, sampai ketika jantung ini  berhenti berdetak. Hidup adalah detik-detik saat ini dan esok hari. Tak  ada yang perlu terlalu dirisaukan, pikirku pada kesadaran yang lain.</p>
<p>Ya, umur ini diberikan olehNYA untuk kita atur. Cara-cara untuk itu  telah diberikannya lewat sejarah yang panjang yang memberitakan.</p>
<p>Kita harus selalu, dan selalu banyak belajar dari itu!</p>
<p>salam</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jimipiter.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jimipiter.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jimipiter.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jimipiter.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jimipiter.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jimipiter.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jimipiter.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jimipiter.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jimipiter.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jimipiter.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jimipiter.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jimipiter.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jimipiter.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jimipiter.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jimipiter.wordpress.com&amp;blog=1872283&amp;post=19&amp;subd=jimipiter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jimipiter.wordpress.com/2010/07/27/kepala-tiga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/615fa86980b865aad44da1bec06a1f46?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jimipiter</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Cinta Harus Berduka</title>
		<link>http://jimipiter.wordpress.com/2009/01/29/ketika-cinta-harus-berduka/</link>
		<comments>http://jimipiter.wordpress.com/2009/01/29/ketika-cinta-harus-berduka/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jan 2009 01:10:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jimi Piter</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jimipiter.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Kawan, akhirnya aku menemukan diri ini berada pada tempat yang berbeda. Tempat yang begitu aneh, tidak biasa dan rumit. Aku naif, kalau mengatakan bahwa tidak pernah punya prasangka akan hal yang buruk tentang semua ini. Kegelisahan hadir ketika senyap dalam pekuburan hati menjelma menjadi kelam-kelam yang legam. Bisakah kita menjaga rahasia masing-masing diri. Toh pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jimipiter.wordpress.com&amp;blog=1872283&amp;post=15&amp;subd=jimipiter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kawan, akhirnya aku menemukan diri ini berada pada tempat yang berbeda. Tempat yang begitu aneh, tidak biasa dan rumit. Aku naif, kalau mengatakan bahwa tidak pernah punya prasangka akan hal yang buruk tentang semua ini. Kegelisahan hadir ketika senyap dalam pekuburan hati menjelma menjadi kelam-kelam yang legam.</p>
<p>Bisakah kita menjaga rahasia masing-masing diri. Toh pada akhirnya, tak ada rahasia dalam setiap perjalanan yang penuh dengan orang-orang. Kiri, kanan, atas, bawah, bahkan dalam angan pikiran, senantiasa dijumali berbagai aneka. Entah itu keserakahan, kadang juga cinta yang begitu aneh, menusuk-nusuk. Nikmat, tapi sakit dan membunuh.</p>
<p>Cinta, kawan. Kata orang adalah bagian yang mustahil dihilangkan dari jagad sejarah. Adalah rahasia yang tak terpecahkan hingga waktu menyusut. Rahasia sesungguhnya dalam percaturan hidup yang membingungkan.</p>
<p>Dalam bahasan ilmu kriptografi, barangkali metode enkripsi begitu berkembang dengan pesat. Sebuah kerahasiaan akan dibungkus dengan begitu rumit. Lucu, terkadang. Saat kita membutuhkan kemudahan, pada saat yang sama pula, kerumitan diperlukan.</p>
<p>Cinta mungkin adalah kasus enkripsi paling mengagumkan. Tak ada kata kuncinya, tak kesamaan metode pemecahan. Tapi menghadirkan konteks jawaban yang hampir sama.</p>
<p>Duka, ceria, senang, sedih, tangis, tawa, adalah sedikit dari bahana yang tergaung dari ulahnya.</p>
<p>Kata penyair terkenal. Jangan sekali-sekali membuat sajak cinta, sebab sesedarhana apapun cinta, ia begitu rumit. Paradoks bukan? Sederhana semacam apakah yang rumit? Rumus matematika sekalipun memiliki pola yang harus tetap, kadang ia menghasilkan jawaban yang berbeda. Cinta, cinta kawan. Dengan berjuta rumus berbeda, hasil tetap sama. Sedih atau bahagia.</p>
<p>Cinta harus dipahami sebagai kerahasiaan yang abadi, seabadi cerita tentangnya yang tak pernah larut. Dan aku kawan, harus menulis tentangnya. Ketika cinta harus bahagia, ketika cinta harus berduka, maka tiada daya siapapun iya untuk melawannya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jimipiter.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jimipiter.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jimipiter.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jimipiter.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jimipiter.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jimipiter.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jimipiter.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jimipiter.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jimipiter.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jimipiter.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jimipiter.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jimipiter.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jimipiter.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jimipiter.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jimipiter.wordpress.com&amp;blog=1872283&amp;post=15&amp;subd=jimipiter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jimipiter.wordpress.com/2009/01/29/ketika-cinta-harus-berduka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/615fa86980b865aad44da1bec06a1f46?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jimipiter</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
